Coretan Mahasiswa Tingkat Akhir

“Yes! Akhirnya dapet pembimbing juga!”
“Apa? Pendamping?”
Yah, begini nih rasanya kalau lagi berbahagia disamping kegalauan sohib. Pembimbing aja dengernya pendamping. Yang tadinya happy, nyanyi – nyanyi one steeeepppppp cloooosssseeeerrr~ malah jadi baaappppeeerrrrr~

Penggalan percakapan tadi bukan pengalaman saya. Tapi semakin jauh melangkah, pertanyaannya enggak jauh beda. Kalau enggak JODOH, NIKAH, ya KERJA! Namanya juga hidup, enggak jauh beda sama interview. Ada aja pertanyaan setelah pertanyaan yang lain dijawab. Tapi postingan kali ini bukan tentang lika liku kehidupan, jadi jangan dibawa serius ya. Cuma mau curhat sedikit tentang masa perkuliahan dulu (kesannya lama, padahal wisuda juga belum). Continue reading “Coretan Mahasiswa Tingkat Akhir”

Sore di Mata Abah

“Kau pikir sakit hanya akan dibayar dengan sakit pula?” Abah menatap tepat ke arahku lembut namun terkesan memojokkan sifat individualis yang mendominasi sifatku.
Aku hanya dapat mengangguk pelan. Ragu, tapi memang itu yang aku yakini. Bibirku tertutup rapat, bahkan rentetan alasan yang ingin tumpah tak dapat keluar barang satu kata pun. Continue reading “Sore di Mata Abah”